Kita menuju kantin yang biasa kita tempati. Kantin Bu Ira, kantin
dengan menu sederhana yang cukup dekat dengan ruang kelas kita. Kau memesan
gado-gado dan aku memesan mi instan rasa kaldu ayam favoritku. Kita berbeda,
menurutmu gado-gado lebih baik dari mi instan karena ada sayuran dan juga
lontong sebagai sumber karbohidrat. Sedang menurutku, mi instan tetap lebih
enak, praktis meski hanya karbohidrat dan beberapa macam zat pengawet. Kau
memperhatikan manfaat, sedang aku lebih peduli pada rasa. Bagiku yang penting
enak di lidah, manfaat nomor dua. Kau selalu menyoroti kebiasaan anehku
menambahkan sedikit saus pada mi instan dalam mangkokku, kemudian menyeruput
kuahnya sampai yang tersisa tinggal sedikit. Lalu kutambahkan lagi saus yang
banyak sampai mi itu benar-benar memerah, aku memang suka rasa yang pedas dan
tak suka kecap, sedang kau lebih suka menambahkan kecap pada gado-gadomu yang
menurutku malah aneh karena menghilangkan rasa asli dari bumbu kacang pada
gado-gado dalam piringmu.
Tampilkan postingan dengan label pro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pro. Tampilkan semua postingan
Rabu, 08 Juni 2016
Selasa, 07 Juni 2016
Dua Kali
Dengan setengah berlari aku menuju kampus, tak jauh memang
dari tempatku tinggal. Kost yang kutempati memang ada di belakang kampus,
sebenarnya biar lebih gampang akses ke kampus kalau sewaktu-waktu ada yang
ketinggalan atau kondisi darurat seperti ini, terlambat.
Mandi hari ini pun, mandi seadanya. Kalau kata orang-orang
di kampungku sih ini mandi ikan. Eh, tapi ikan tak pernah mandi kan? Atau malah
tiap hari mandi? Ah, mungkin maksudnya karena ikan tak pernah menggosok
badannya. Lah, kenapa malah bahas ikan?
Oke, terlambat. Dan aku sebenarnya paling tidak suka
terlambat, meski hanya semenit. Jika memang dosen sudah masuk ketika aku sampai
di kampus, entah itu semenit, dua menit atau lima menit, aku akan lebih memilih
untuk tidak masuk. Itu komitmen yang kubuat dengan diriku sendiri selain karena
aku juga menghargai dosen yang datang lebih awal dariku.
Detak jantungku masih memburu, kulihat jam sudah lewat lima
menit dari jam masuk dosenku.Telat, tidak, telat, tidak, telat, tidak. Tidak,
aku tidak sedang mengundi nasib dengan menghitung kancing kemejaku. Aku hanya
menghitung harapanku untuk tidak terlambat masuk atau dengan kata lain
mengharap dosen terlambat masuk sehingga aku menjadi tidak terlambat. Bingung?
Mari kita sederhanakan, dosen tepat waktu = saya terlambat, saya tidak
terlambat = dosen terlambat. Bagaimana? Sudah paham? Itu bukan lah pelajaran
matematika yang membahas persamaan jika dan hanya jika, jadi tak usah dipikir.
Senin, 06 Juni 2016
Kamu Tahu?
Piiippp…
Klakson motorku kubunyikan sekali, sebagai kode untuk kau agar
segera naik mengisi boncenganku yang kosong atau mungkin sengaja kukosongkan
untukmu. Pernah tidak kau berpikir bahwa aku sengaja menghitung, bukan… bukan
menghitung hanya memperkirakan waktu berangkatmu dari rumah ke sekolah? Sehingga
tepat ketika kau menyeberang jalan di depan rumahmu aku sudah berada di
belakangmu. Padahal rumah kita berjarak satu kilometer dan kita tidak ada janji
untuk berangkat sekolah barengan.
Hampir setiap pagi aku melakukannya dan aku yakin kau tak
menyadarinya. Mungkin kau hanya berpikir itu adalah kebetulan yang terjadi
berulang kali, padahal aku bisa saja berangkat ke sekolah lebih cepat dan
memacu motorku dengan kecepatan tinggi. Karena
aku pernah melakukannya hanya untuk mengukur waktu tercepat yang kutempuh untuk
sampai ke sekolah. Yah, hanya sebagai antisipasi jika sewaktu-waktu terlambat
karena sesuatu dan lain hal.
Vika, hal sederhana seperti berboncengan denganmu saat ke
sekolah itu cukup untuk membuatku bahagia sepanjang hari, kau tak pernah tahu
kan? Ah, kau tak perlu tahu tentang itu. Cukuplah aku dengan segala rasaku yang
hanya bisa kupendam karena ketakutanku akan kehilanganmu. Cukup bagiku
mendengar ceritamu tentang novel yang sedang kau baca. Waktu istirahat sekolah
menjadi waktu favoritku, karena kita bisa menghabiskannya dengan diskusi
tentang apa yang telah kita baca, bukan menghabiskan waktu di kantin sekolah.
“Hei, semalam baca apa lagi?” tanyaku setelah menepuk
pundakmu sesaat setelah jam pelajaran selesai.
“Ah, ini… novel Ayat-ayat Cinta” jawabmu sekenanya.
“Bagaimana ceritanya?”
“Belum kelar bacanya juga, nantilah saya ceritakan kalau
sudah kelar bacanya. Eh, makan yok… laper ini, tadi belum sempat sarapan di
rumah.” Katamu sambil tersenyum dan menggerakkan kedua alismu.
“Okelah.”
Ah, permintaanmu yang
mana yang bisa kutolak? Sepertinya tak ada. Aku selalu kehilangan banyak kata
ketika berbicara denganmu. Kau tak pernah tahu kan berapa kecepatan denyut
jantungku ketika di depanmu? Andai kau tahu, aku yakin kau pasti akan
menertawakanku. Hahaha… aku saja menertawai diriku sendiri.
Ini pengakuanku. Kau tahu? Aku sebenarnya tak pernah menyimak
apa yang kau ceritakan, aku hanya memperhatikan caramu bercerita, kemudian
melayangkan anganku dalam ceritamu. Menikmati setiap detik waktu denganmu. Yah,
berada di dekatmu itu aku merasakan kenyamanan tersendiri. Andai saja pengakuan
ini berani ku ungkap padamu.
Vika… aku…
=====
Tulisan ini diikutkan dalam tantangan SIGi Makassar #SIGiMenulisRamadhan
Baca tulisan teman yang lain disini:
- Nunu >> nuralmarwah.com
- Amma >> dandelionwannabe.wordpress.com
- Ammy >> rahmianarahman.blogspot.com
- Kyuu >> kyuuisme.wordpress.com
- Inov >> inanovita.blogspot.com
- Ancha >> rancaaspar.wordpress.com
- Ratih >> burningandloveable.blogspot.com
- Indi >> inditriyani.wordpress.com
- Jabbar >> begooottt.wordpress.com
Langganan:
Postingan (Atom)