Rabu, 29 Juni 2016

#RamadhanDay 7: Berita Kematian

Satu yang pasti di dunia ini adalah kematian. Kematian itu pasti datangnya dan ia lebih dekat dari kiamat. Ketika ada yang berkata bahwa kiamat sudah dekat, maka sungguh kematian itu lebih dekat. 

Ramadhan ini, sudah dua orang tetangga saya yang ditakdirkan oleh Allah untuk mendahului kami. Yang satunya meninggal pada hari ke-3 Ramadhan dan yang yang satu lagi pada hari ke-17 Ramadhan yang lalu.
Tapi, saya ingin sedikit bercerita tentang orang yang meninggal pada hari ke-17 Ramadhan kemarin. Beliau adalah seorang muadzin di masjid dekat rumah saya.

Subuh, 17 Ramadhan. Tak pernah ada yang menyangka, begitulah kematian tak ada yang tahu kapan datangnya. Saya masih mendengarnya mengumandangkan adzan subuh hari itu. Setelah adzan saya berangkat ke masjid. Kulihat ada yang tak biasa, menantu beliau mengemudikan mobil dengan tergesa, biasanya menyapa saya, tapi kali ini memang tidak biasanya. Dimundurkannnya mobil itu sampai di depan masjid, kulihat ada ramai-ramai, dalam hati ini kenapa belum iqomah, padahal waktu sholat subuh sudah sampai.

Selasa, 21 Juni 2016

#RamadhanDay 6: Mengapa Saya Berhenti Mengajar (bag.1)

Ada pertanyaan menyentil yang pernah dilontarkan oleh salah seorang teman kepada saya beberapa waktu yang lalu, tentang mengapa saya berhenti mengajar di sekolah? Padahal saya seorang sarjana pendidikan biologi, yang menurut sebagian orang harusnya menjadi guru dan menjarkan biologi di sekolah. Apakah karena honornya kurang? Mungkin... hahaha...

Jadi seperti ini, hampir setahun yang lalu saya mulai menjadi guru honor di dua sekolah atas 'perintah' orang tua saya. Satunya MTs, dan satunya lagi pesantren tingkat SMP. Awal-awal di sekolah jelas terasa canggung, sangat berbeda ketika PPL sewaktu kuliah. Ini waktunya mengaplikasikan ilmu di lapangan yang sebenarnya. Jadilah saya guru, berpenampilan layaknya guru kebanyakan dengan kemeja, celana kain, lengkap dengan sepatu yang mengkilap (tapi dompet meringis) hahaha...

#RamadhanDay 5: Beberapa Hal yang Saya Sesali


Ramadhan, bulan yang selalu mengingatkanmu beberapa hal di belakang, beberapa hal yang telah berlalu. Entah itu baik atau buruk. Sebagai pengingat untuk lebih memperbanyak kebaikan-kebaikan dan mereduksi keburukan-keburukan. Ramadhan ini, kembali mengingatkan saya beberapa hal yang seharusnya tidak saya tinggalkan di masa lalu. Tentu, penyesalan akan selalu ada di belakang. Dan penyesalan itu muncul lebih dari 10 tahun kemudian.

Beberapa hari kemarin, ada teman di salah satu grup sharing di WhatsApp menawarkan dagangannya berupa Al Qur'an yang dilengkapi dengan metode menghafal, katanya bisa hafal 1 lembar dalam 3 jam. Responku malah bilang 3 jam? Apa itu tidak terlalu lama? Tapi, kalau ingat umur sekarang yang sudah lebih dari seperempat abad rasanya itu masih realistis. Memang, dulu sewaktu SMP kelas satu saya pernah menghafal juga, dan ini yang paling saya sesalkan, dan sekarang hanya ada kata PERNAH. Kenapa saya sesali? Sekarang baru sadar kenapa dulu saya berhenti, padahal waktu itu saya sudah hampir hafal juz 2 dan juz 1 Alhamdulillah sudah lancar. Kalau tidak berhenti waktu itu, mungkin sekarang sudah hafal 30 juz. Terkadang saya iri melihat anak-anak yang menghafal Al-Qur'an itu. Betapa bahagia orang tua mereka melihatnya.

Senin, 20 Juni 2016

#RamadhanDay4 : Menjadi Petani

Mungkin sebaiknya cerita tentang Adit dan Dini disimpan dulu, karena harus mikir (baca: menghayal) ekstra untuk melanjutkannya. Hahaha...

Sepertinya saya tertinggal cukup jauh ya, hari ini sudah hari ke-15 Ramadhan, terakhir posting tulisan hari ke-3 Ramadhan. Berarti masih ada 12 cicilan tulisan yang harus saya kejar dan akan bertambah kalau saya berhenti lagi menulis. Rasa-rasa tertampar melihat teman-teman yang konsisten menulis. Meski sebenarnya yang ada dipikiran ini sudah minta untuk ditumpahkan segera.

****

Kali ini saya sedikit bercerita tentang menjadi petani. Pekerjaan yang mungkin sering dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Apalagi orang-orang yang sering meng-agung-kan PNS (maaf, tidak ada maksud untuk menyerang orang-orang tertentu atau profesi terrtentu). Bapak saya seorang guru, PNS yang sewaktu diangkat menjadi PNS, pendidikan masih Diploma I, dari beliau saya belajr banyak hal. Jadi, saya tidak ada alasan untuk membenci profesi seorang PNS. Karena bisa jadi itu menjadi sebuah ungkapan ketidaksyukuran saya.

Kembali tentang menjadi petani. Setelah mengundurkan diri (bagian ini akan saya ceritakan di lain waktu) dari sekolah tempat saya mengajar sekitar enam bulan yang lalu, dan setelah pengumuman LPDP menyatakan bahwa saya tidak lulus seleksi penerima beasiswa S2. Saya kembali ke kampung, menjalani aktivitas sebagai petani yang sebenarnya hanya membantu nenek saya mengurus kebun kakao miliknya. Kebanyakan saya menghabiskan waktu di kebun dan di depan laptop. Semakin sering ke kebun, semakin banyak hal-hal yang saya pelajari, tentunya ini tidak saya dapatkan semasa kuliah S1. Apa saja? Saya belajar dari kakek bagaimana menanam pisang, memangkas pohon kakao, memupuk, memanen, dan masih banyak lagi.

Menjadi petani merupakan opsi yang realistis yang ada dalam pikiranku. Ini pekerjaan halal dan lagipula tidak bergantung dengan orang lain dan jelas saya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang saya usahakan. Setidaknya saya tidak mengharap gaji seperti saat masih menjadi guru honor. Meskipun menjadi petani itu penuh dengan ketidak pastian, tidak pasti penghasilannya berapa. belum lagi dihantui dengan serangan hama yang bisa saja merusak buah kakao atau bahkan anjloknya harga kakao di pasaran. Tapi, saya yakin Allah sudah mengatur rejeki setiap orang yang berusaha. Kita hanya perlu berdoa dan berusaha.

Rabu, 08 Juni 2016

Tidak Ada Cerita Hari Ini

Kita menuju kantin yang biasa kita tempati. Kantin Bu Ira, kantin dengan menu sederhana yang cukup dekat dengan ruang kelas kita. Kau memesan gado-gado dan aku memesan mi instan rasa kaldu ayam favoritku. Kita berbeda, menurutmu gado-gado lebih baik dari mi instan karena ada sayuran dan juga lontong sebagai sumber karbohidrat. Sedang menurutku, mi instan tetap lebih enak, praktis meski hanya karbohidrat dan beberapa macam zat pengawet. Kau memperhatikan manfaat, sedang aku lebih peduli pada rasa. Bagiku yang penting enak di lidah, manfaat nomor dua. Kau selalu menyoroti kebiasaan anehku menambahkan sedikit saus pada mi instan dalam mangkokku, kemudian menyeruput kuahnya sampai yang tersisa tinggal sedikit. Lalu kutambahkan lagi saus yang banyak sampai mi itu benar-benar memerah, aku memang suka rasa yang pedas dan tak suka kecap, sedang kau lebih suka menambahkan kecap pada gado-gadomu yang menurutku malah aneh karena menghilangkan rasa asli dari bumbu kacang pada gado-gado dalam piringmu.

Selasa, 07 Juni 2016

Dua Kali

Dengan setengah berlari aku menuju kampus, tak jauh memang dari tempatku tinggal. Kost yang kutempati memang ada di belakang kampus, sebenarnya biar lebih gampang akses ke kampus kalau sewaktu-waktu ada yang ketinggalan atau kondisi darurat seperti ini, terlambat.

Mandi hari ini pun, mandi seadanya. Kalau kata orang-orang di kampungku sih ini mandi ikan. Eh, tapi ikan tak pernah mandi kan? Atau malah tiap hari mandi? Ah, mungkin maksudnya karena ikan tak pernah menggosok badannya. Lah, kenapa malah bahas ikan?

Oke, terlambat. Dan aku sebenarnya paling tidak suka terlambat, meski hanya semenit. Jika memang dosen sudah masuk ketika aku sampai di kampus, entah itu semenit, dua menit atau lima menit, aku akan lebih memilih untuk tidak masuk. Itu komitmen yang kubuat dengan diriku sendiri selain karena aku juga menghargai dosen yang datang lebih awal dariku.

Detak jantungku masih memburu, kulihat jam sudah lewat lima menit dari jam masuk dosenku.Telat, tidak, telat, tidak, telat, tidak. Tidak, aku tidak sedang mengundi nasib dengan menghitung kancing kemejaku. Aku hanya menghitung harapanku untuk tidak terlambat masuk atau dengan kata lain mengharap dosen terlambat masuk sehingga aku menjadi tidak terlambat. Bingung? Mari kita sederhanakan, dosen tepat waktu = saya terlambat, saya tidak terlambat = dosen terlambat. Bagaimana? Sudah paham? Itu bukan lah pelajaran matematika yang membahas persamaan jika dan hanya jika, jadi tak usah dipikir.

Senin, 06 Juni 2016

Kamu Tahu?

Piiippp…

Klakson motorku kubunyikan sekali, sebagai kode untuk kau agar segera naik mengisi boncenganku yang kosong atau mungkin sengaja kukosongkan untukmu. Pernah tidak kau berpikir bahwa aku sengaja menghitung, bukan… bukan menghitung hanya memperkirakan waktu berangkatmu dari rumah ke sekolah? Sehingga tepat ketika kau menyeberang jalan di depan rumahmu aku sudah berada di belakangmu. Padahal rumah kita berjarak satu kilometer dan kita tidak ada janji untuk berangkat sekolah barengan.

Hampir setiap pagi aku melakukannya dan aku yakin kau tak menyadarinya. Mungkin kau hanya berpikir itu adalah kebetulan yang terjadi berulang kali, padahal aku bisa saja berangkat ke sekolah lebih cepat dan memacu motorku dengan kecepatan tinggi. Karena aku pernah melakukannya hanya untuk mengukur waktu tercepat yang kutempuh untuk sampai ke sekolah. Yah, hanya sebagai antisipasi jika sewaktu-waktu terlambat karena sesuatu dan lain hal.

Vika, hal sederhana seperti berboncengan denganmu saat ke sekolah itu cukup untuk membuatku bahagia sepanjang hari, kau tak pernah tahu kan? Ah, kau tak perlu tahu tentang itu. Cukuplah aku dengan segala rasaku yang hanya bisa kupendam karena ketakutanku akan kehilanganmu. Cukup bagiku mendengar ceritamu tentang novel yang sedang kau baca. Waktu istirahat sekolah menjadi waktu favoritku, karena kita bisa menghabiskannya dengan diskusi tentang apa yang telah kita baca, bukan menghabiskan waktu di kantin sekolah.

“Hei, semalam baca apa lagi?” tanyaku setelah menepuk pundakmu sesaat setelah jam pelajaran selesai.

“Ah, ini… novel Ayat-ayat Cinta” jawabmu sekenanya.

“Bagaimana ceritanya?”

“Belum kelar bacanya juga, nantilah saya ceritakan kalau sudah kelar bacanya. Eh, makan yok… laper ini, tadi belum sempat sarapan di rumah.” Katamu sambil tersenyum dan menggerakkan kedua alismu.

“Okelah.”

Ah, permintaanmu yang mana yang bisa kutolak? Sepertinya tak ada. Aku selalu kehilangan banyak kata ketika berbicara denganmu. Kau tak pernah tahu kan berapa kecepatan denyut jantungku ketika di depanmu? Andai kau tahu, aku yakin kau pasti akan menertawakanku. Hahaha… aku saja menertawai diriku sendiri.

Ini pengakuanku. Kau tahu? Aku sebenarnya tak pernah menyimak apa yang kau ceritakan, aku hanya memperhatikan caramu bercerita, kemudian melayangkan anganku dalam ceritamu. Menikmati setiap detik waktu denganmu. Yah, berada di dekatmu itu aku merasakan kenyamanan tersendiri. Andai saja pengakuan ini berani ku ungkap padamu.


Vika… aku…


=====

Tulisan ini diikutkan dalam tantangan SIGi Makassar #SIGiMenulisRamadhan

Baca tulisan teman yang lain disini:
- Nunu >> nuralmarwah.com

Jumat, 03 Juni 2016

Kapan Kau Kembali?

Aku harus berpacu, aku mulai ketinggalan banyak hal. Membaca, menulis, kebiasaan lama yang sekarang tergantikan dengan seabrek aktivitas tak jelas. Atau mungkin saja disebut tidak ada aktivitas.

Merasa, merangkai rasa dalam tumpukan kalimat-kalimat bermajas tak lagi akrab denganku. Ini bencana, tak kupikir ada bencana yang lebih besar dari keenggananku untuk membaca lebih banyak lagi. Aku hanya berjalan kesana sini tanpa coba merekam apa yang ada. Yah, aku berjalan dalam kekosongan. Hampa.

Vik, aku rindu ternyata. Sosokmu yang dulu begitu kukagumi sekarang entah dimana keberadaannya. Tidakkah ada rasa bersalahmu meninggalkanku dalam keadaan seperti ini? Seolah hidupku kau bawa pergi bersamamu. Tolong, kembalilah meski sejenak. Aku ingin duduk di sampingmu bercerita banyak hal seperti yang dulu sering kita lakukan. Kemudian malamnya kutuliskan lagi apa yang telah kita lalui bersama hari itu. Aku rindu saat-saat seperti itu.

Akankah kau kembali? Setidaknya mengembalikan kebiasaan lamaku. Dulu, kita sering menghabiskan banyak waktu sekadar membahas buku yang baru selesai kita baca. Aku dengan buku yang beragam genre, sedang kau masih setia dengan novel-novel beragam cerita. Tentang cinta lebih banyak. Aku hanya tak berharap bahwa kau akan mengharapkan kisah cinta yang sama dalam novel-novel yang telah kau baca. Itu fiksi Vik, begitu kataku ketika kau telah menceritakan isi novel yang baru selesai kau baca.

Kamis, 02 Juni 2016

Berisik!

"Berisik!!! Ini masih akhir pekan dan kamu sudah membangunkanku sepagi ini." Adit murka dengan bunyi handphone yang sejak pagi buta sudah berulang kali berbunyi dekat telinganya. Kalau saja itu bukan handphone satu-satunya dan juga pemberian dari orang tuanya, mungkin sudah dibantingnya sejak tadi.

"Adit... ada apa? Kamu baik-baik saja?" terdengar suara dari handphone-nya. Suara seorang perempuan yang lembut tapi jelas menyimpan ketakutan.

"Dini? Maaf, kukira tadi temanku yang iseng terus menelepon sepagi ini." Jawab Adit salah tingkah kemudian memperhatikan nama yang muncul di layar handphone-nya. "Ada apa ya? tumben kamu menelpon sepagi ini."

"Kamu lupa ya? hari ini kan..." Dini tidak melanjutkan perkataannya.

"Hari ini apa? apa aku melewatkan sesuatu? Atau kita punya janji dan aku lupa?" pertanyaan Adit memburu sembari terus mencoba mengingat-ingat apa yang kira-kira ia lupa.

"Ah, sepertinya kamu benar-benar lupa... Sudahlah..." kata Dini dengan nada menyesal.

"Apa?"

"Ternyata kamu lupa, hari ini kan hari Minggu, dan kita tidak punya janji apa-apa... tidur sajalah... hahaha..." jawab Dini sembari tertawa puas. Puas sekali rasanya bisa mengerjai Adit sepagi ini. Kemudian ia mematikan handphone tanpa permisi. Meninggalkan Adit terjebak dalam kebingungan sepagi itu.

"Awas kamu, akan kubalas nanti," gumam Adit.