Selasa, 07 Juni 2016

Dua Kali

Dengan setengah berlari aku menuju kampus, tak jauh memang dari tempatku tinggal. Kost yang kutempati memang ada di belakang kampus, sebenarnya biar lebih gampang akses ke kampus kalau sewaktu-waktu ada yang ketinggalan atau kondisi darurat seperti ini, terlambat.

Mandi hari ini pun, mandi seadanya. Kalau kata orang-orang di kampungku sih ini mandi ikan. Eh, tapi ikan tak pernah mandi kan? Atau malah tiap hari mandi? Ah, mungkin maksudnya karena ikan tak pernah menggosok badannya. Lah, kenapa malah bahas ikan?

Oke, terlambat. Dan aku sebenarnya paling tidak suka terlambat, meski hanya semenit. Jika memang dosen sudah masuk ketika aku sampai di kampus, entah itu semenit, dua menit atau lima menit, aku akan lebih memilih untuk tidak masuk. Itu komitmen yang kubuat dengan diriku sendiri selain karena aku juga menghargai dosen yang datang lebih awal dariku.

Detak jantungku masih memburu, kulihat jam sudah lewat lima menit dari jam masuk dosenku.Telat, tidak, telat, tidak, telat, tidak. Tidak, aku tidak sedang mengundi nasib dengan menghitung kancing kemejaku. Aku hanya menghitung harapanku untuk tidak terlambat masuk atau dengan kata lain mengharap dosen terlambat masuk sehingga aku menjadi tidak terlambat. Bingung? Mari kita sederhanakan, dosen tepat waktu = saya terlambat, saya tidak terlambat = dosen terlambat. Bagaimana? Sudah paham? Itu bukan lah pelajaran matematika yang membahas persamaan jika dan hanya jika, jadi tak usah dipikir.

Aku tiba di kampus dengan menghela napas panjang. Akhirnya sampai juga dan kutemukan pintu kelas telah tertutup rapat. Aku mendekat, merapatkan telingaku di pintu kelas, untuk memastikan apakah dosen sudah di dalam kelas atau belum. Buka, tidak, buka, tidak, buka, tidak, BUKA. Akhirnya kubuka juga pintu kelas itu setelah kudengar belum ada suara dosen. Dan…

Selamat ulang tahuuuuun….!!
Selamat ulang tahun… kami ucapkan… semoga panjang umur. Tidak, bukan itu. Aku tidak sedang berulang tahun, itu hanya ada dalam pikiranku saja. Benar, kuliah belum dimulai karena dosen pun datang. Mataku mencari Dini yang menelponku tadi, membuatku harus ngos-ngosan ke kampus, dan jangan lupa perihal ‘mandi ikan’ tadi.

Kutemukan juga Dini sedang duduk dan melihatku dari bangku kedua dari depan yang ada dibaris pertama rapat dengan dinding kelas. Dia melihatku sambil menahan tawa. Kurasa ada yang aneh dengannya. Atau jangan-jangan…

Kuhampiri Dini, dan kemudian pecahlah tawanya melihatku yang masih keringatan. Sepertinya benar dugaanku. Sekali lagi dia mengerjaiku.

“Kenapa? Abang lelah?” kata Dini masih dengan tertawa dengan nada sedikit mengejek meskipun sudah berusaha menahan tawanya.

“Katamu dosen sudah mau masuk, trus mana dosennya?” tak kujawab pertanyaannya. Masih lelah bercampur sesendok rasa jengkel.

“Lah, kan memang sudah mau masuk, tapi sekarang atau bentaran lagi kan terserah dosennya. Atau mungkin juga hari ini tidak masuk. Yang penting kan saya gak bohong, karena memang mau masuk, masa iya gak mau masuk? Gak digaji dong, kecuali kalo dosennya mau makan gaji buta. Hahaha…” jawab Dini seraya tertawa puas sekali berhasil mengerjaiku dua kali dan membuyarkan lamunanku tentang Vika pagi tadi.

“Kalo saja kamu bukan perempuan sudah kujitak dari tadi”, kataku dengan sedikit kesal.


=====

Tulisan ini diikutkan dalam tantangan SIGi Makassar #SIGiMenulisRamadhan

Baca tulisan teman yang lain disini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar