Rabu, 08 Juni 2016

Tidak Ada Cerita Hari Ini

Kita menuju kantin yang biasa kita tempati. Kantin Bu Ira, kantin dengan menu sederhana yang cukup dekat dengan ruang kelas kita. Kau memesan gado-gado dan aku memesan mi instan rasa kaldu ayam favoritku. Kita berbeda, menurutmu gado-gado lebih baik dari mi instan karena ada sayuran dan juga lontong sebagai sumber karbohidrat. Sedang menurutku, mi instan tetap lebih enak, praktis meski hanya karbohidrat dan beberapa macam zat pengawet. Kau memperhatikan manfaat, sedang aku lebih peduli pada rasa. Bagiku yang penting enak di lidah, manfaat nomor dua. Kau selalu menyoroti kebiasaan anehku menambahkan sedikit saus pada mi instan dalam mangkokku, kemudian menyeruput kuahnya sampai yang tersisa tinggal sedikit. Lalu kutambahkan lagi saus yang banyak sampai mi itu benar-benar memerah, aku memang suka rasa yang pedas dan tak suka kecap, sedang kau lebih suka menambahkan kecap pada gado-gadomu yang menurutku malah aneh karena menghilangkan rasa asli dari bumbu kacang pada gado-gado dalam piringmu.

Kita begitu berbeda dalam semuanya, kecuali dalam cinta. Bukan, tidak seperti itu, itu hanya itu hanya petikan dialog dalam film GIE yang melintas di pikiranku ketika memperhatikanmu menyantap gado-gado yang ada di piringmu dengan lahap.

Sekali waktu kupikir kita benar-benar berbeda. Ini bukan hanya dalam perihal makanan, saus, dan kecap. Tapi, lebih daripada itu seperti dalam kegiatan ekskul di sekolah, kau lebih memilih berada dalam seragam coklat dengan pita merah putih yang melingkar pada kerah seragammu, yang membesarkan namamu. Sampai kau pun pernah mengikuti jambore nasional pada waktu SD, sebuah prestasi yang cukup membanggakan. Sedang aku lebih memilih bergabung dalam barisan yang di lengan seragam sekolahnya ada lambang palang berwarna merah dengan dasar kuning yang berbentuk seperti perisai, yang setiap upacara harus stand by di belakang barisan upacara jika sewaktu-waktu ada peserta yang pingsan.

Ah, itu hanya perbedaan kecil dan menyangkut pilihan masing-masing, bukankah perbedaan itu yang membuat banyak cerita? Bukankah perbedaan yang kemudian bisa membuat kita saling melengkapi? Hah, terlalu dini bicara saling melengkapi, kita masih kelas 2 SMA, jalan di depan kita masih panjang terbentang, takdir yang akan menentukan nantinya apakah kita akan saling melengkapi ataukah nantinya hanya akan bertukar cerita tentang orang-orang yang melengkapi hidup kita. Namun, tak ada salahnya kan jika aku berharap kau yang akan melengkapi hidupku?

“Eh, kecap segitu enaknya ya?” tanyaku

“Iya, ada manis-manisnya gitu…” jawabmu sembari tertawa kecil.

“Dulu saya memang suka kecap, tapi sejak diberi tahu kalau kecap itu dibuat dari kura-kura, saya jadi jijik dengan kecap, tau sendiri kan kura-kura biasa ada di mana? Di saluran air.”

“Hahaha… ya itu kan dulu biar kamu gak ngabisin kecap di rumah mungkin, makanya dibilangi seperti itu.”

“Iya juga sih,” kataku sembari menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.

“Itu saus segitu enaknya? Sampai mi itu tak tampak lagi warna aslinya? Hahaha…”

“Iya lah enak, bisa menstimulus keringat keluar meski tanpa olahraga dan juga memerahkan bibir meski tanpa pake lipstick, hahaha…”

“Aneh.”

“Kamu juga.”

“Jadi, tak ada cerita hari ini? Kira-kira kapan novel itu selesai kamu baca? Sepertinya menarik.”

“Yah, mungkin tiga atau empat hari ke depan, kalau waktu libur sih dua hari juga kelar.”

“Yaaaahh,” kataku dengan sedikit menampakkan raut sesal.

Sesal, karena aku tak ada alasan untuk memperhatikanmu lebih lama dalam cerita-cerita yang seolah membuat dunia menjadi milikmu sendiri. Vika, jika pun tak ada cerita hari ini dari novel yang kau baca, setidaknya kita masih punya gado-gado, mi instan, kecap dan saus untuk bercerita.


=====

Tulisan ini diikutkan dalam tantangan SIGi Makassar #SIGiMenulisRamadhan

Baca tulisan teman yang lain disini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar