Senin, 06 Juni 2016

Kamu Tahu?

Piiippp…

Klakson motorku kubunyikan sekali, sebagai kode untuk kau agar segera naik mengisi boncenganku yang kosong atau mungkin sengaja kukosongkan untukmu. Pernah tidak kau berpikir bahwa aku sengaja menghitung, bukan… bukan menghitung hanya memperkirakan waktu berangkatmu dari rumah ke sekolah? Sehingga tepat ketika kau menyeberang jalan di depan rumahmu aku sudah berada di belakangmu. Padahal rumah kita berjarak satu kilometer dan kita tidak ada janji untuk berangkat sekolah barengan.

Hampir setiap pagi aku melakukannya dan aku yakin kau tak menyadarinya. Mungkin kau hanya berpikir itu adalah kebetulan yang terjadi berulang kali, padahal aku bisa saja berangkat ke sekolah lebih cepat dan memacu motorku dengan kecepatan tinggi. Karena aku pernah melakukannya hanya untuk mengukur waktu tercepat yang kutempuh untuk sampai ke sekolah. Yah, hanya sebagai antisipasi jika sewaktu-waktu terlambat karena sesuatu dan lain hal.

Vika, hal sederhana seperti berboncengan denganmu saat ke sekolah itu cukup untuk membuatku bahagia sepanjang hari, kau tak pernah tahu kan? Ah, kau tak perlu tahu tentang itu. Cukuplah aku dengan segala rasaku yang hanya bisa kupendam karena ketakutanku akan kehilanganmu. Cukup bagiku mendengar ceritamu tentang novel yang sedang kau baca. Waktu istirahat sekolah menjadi waktu favoritku, karena kita bisa menghabiskannya dengan diskusi tentang apa yang telah kita baca, bukan menghabiskan waktu di kantin sekolah.

“Hei, semalam baca apa lagi?” tanyaku setelah menepuk pundakmu sesaat setelah jam pelajaran selesai.

“Ah, ini… novel Ayat-ayat Cinta” jawabmu sekenanya.

“Bagaimana ceritanya?”

“Belum kelar bacanya juga, nantilah saya ceritakan kalau sudah kelar bacanya. Eh, makan yok… laper ini, tadi belum sempat sarapan di rumah.” Katamu sambil tersenyum dan menggerakkan kedua alismu.

“Okelah.”

Ah, permintaanmu yang mana yang bisa kutolak? Sepertinya tak ada. Aku selalu kehilangan banyak kata ketika berbicara denganmu. Kau tak pernah tahu kan berapa kecepatan denyut jantungku ketika di depanmu? Andai kau tahu, aku yakin kau pasti akan menertawakanku. Hahaha… aku saja menertawai diriku sendiri.

Ini pengakuanku. Kau tahu? Aku sebenarnya tak pernah menyimak apa yang kau ceritakan, aku hanya memperhatikan caramu bercerita, kemudian melayangkan anganku dalam ceritamu. Menikmati setiap detik waktu denganmu. Yah, berada di dekatmu itu aku merasakan kenyamanan tersendiri. Andai saja pengakuan ini berani ku ungkap padamu.


Vika… aku…


=====

Tulisan ini diikutkan dalam tantangan SIGi Makassar #SIGiMenulisRamadhan

Baca tulisan teman yang lain disini:
- Nunu >> nuralmarwah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar