Selasa, 21 Juni 2016

#RamadhanDay 6: Mengapa Saya Berhenti Mengajar (bag.1)

Ada pertanyaan menyentil yang pernah dilontarkan oleh salah seorang teman kepada saya beberapa waktu yang lalu, tentang mengapa saya berhenti mengajar di sekolah? Padahal saya seorang sarjana pendidikan biologi, yang menurut sebagian orang harusnya menjadi guru dan menjarkan biologi di sekolah. Apakah karena honornya kurang? Mungkin... hahaha...

Jadi seperti ini, hampir setahun yang lalu saya mulai menjadi guru honor di dua sekolah atas 'perintah' orang tua saya. Satunya MTs, dan satunya lagi pesantren tingkat SMP. Awal-awal di sekolah jelas terasa canggung, sangat berbeda ketika PPL sewaktu kuliah. Ini waktunya mengaplikasikan ilmu di lapangan yang sebenarnya. Jadilah saya guru, berpenampilan layaknya guru kebanyakan dengan kemeja, celana kain, lengkap dengan sepatu yang mengkilap (tapi dompet meringis) hahaha...

Inilah tantangan menjadi guru di daerah, di tempat yang terjajah oleh teknologi, yang tidak siap dengan perkembangan teknologi. Anak-anaknya gaul sana sini, tapi otak NOL tidak gaul sama sekali, meskipun tidak semuanya seperti itu, tapi bisa dikatakan hampir semuanya. Adalah tantangan mengajar di sebuah sekolah yang sering dikatakan 'pembuangan' karena banyak siswanya yang merupakan siswa bermasalah di sekolah lain kemudian dipindahkan kesana, masalahnya beragam, mulai dari malas, sampai suka bikin onar. Sok jago meski masih sangat hijau.

Saya bertahan mengajar di MTs hanya tiga bulan, saya tinggalkan setelah mid semester. Alasan yang saya tampakkan adalah karena setelah 3 bulan honor saya tidak dibayarkan. Saya diminta mengabdi dulu setahun baru kemudian bisa dianggap sebagai guru honor di sekolah tersebut. Rasanya seperti lelucon saja, tapi apa semata-mata karena honor, apakah motivasi saya mengajar hanya untuk materi? uang? Silakan menilai. Awal mengajar saya hanya langsung diberi 12 jam pelajaran selama seminggu, tanpa SK ataupun Surat Tugas atau apalah yang sejenis dengan itu. Apa itu sebuah masalah? Mungkin bagi sebagian orang itu adalah hal kecil, hal remeh, tapi bagi saya setidaknya itu adalah sebuah penghargaan. Saya yang aktif di organisasi kampus semasa kuliah paham betul bagaimana nilai sebuah SK.

Kesampingkanlah masalah SK, mungkin itu memang hal yang tak perlu diperdebatkan. Masuk ke kelas kemudian dipertemukan dengan wajah-wajah lugu anak-anak yang baru saja tamat dari sekolah dasar. Respon mereka awalnya hangat sampai beberapa pekan kemudian banyak yang mungkin merasa tertekan dengan cara mengajar saya yang lebih mengajari mereka untuk jujur dan percaya diri dengan mengesampingkan nilai akademik dulu. Di sebuah ulangan harian saya mengingatkan kepada mereka, untuk belajar mengerjakan dengan jujur apapun hasilnya, bahkan kalau memang tak tahu sama sekali tidak usah dikerjakan dan jujur bilang tidak tahu, tidak perlu menyontek. Tapi hasilnya, masih saja ada yang menyontek. Apa cara saya salah? Atau ada yang salah dengan isi kepala saya? Mungikin. Hahaha...

Di kesempatan lain, mungkin ini puncak kekesalan saya di sekolah tersebut. Akumulasi dari beberapa kekesalan terhadap siswa-siswa yang kurang ajar. Ketika mid semester, saya mendapat tugas mengawas. Sebagai pengawas saya punya aturan yang memang menyusahkan bagi sebagian banyak siswa yang sudah terlatih menyontek. Saya hanya memberi satu aturan, yang ketahuan menyontek langsung pekerjaannya saya ambil. Tak peduli apakah pekerjaannya masih kosong atau sudah selesai, bagi saya tidak ada kompromi. Karena mendiamkan perilaku menyontek mereka sama saja saya turut berperan untuk membudayakan perilaku tersebut. Nah, disinilah puncak kekesalan saya. Ada seorang siswa yang ketahuan menyontek kemudian saya minta baik-baik pekerjaannya dan menyuruhnya keluar tapi dia bertahan sampai saya meminta dengan sedikit memaksa dan akhirnya dia menyerahkan pekerjaannya yang masih kosong dan berlalu di samping saya sambil mengucap kata 'ASU' di telinga saya. Respon saya? saya hanya tertawa miris sambil menggelengkan kepala dan berpikir apa saya salah ya? Mungkin saya salah. Kata yang diucapnya itu dalam bahasa Mandar yang kalau diterjemahkan artinya adalah 'anjing'. Baru kali ini saya mendengar seorang siswa berkata seperti itu kepada guru. Mungkin memang salah saya.

Untuk kasus di atas, yang saya ingat hanyalah perkataan orang tua saya, "jangan sekali-kali memukul siswa, nanti ditangkap polisi kalau kamu melakukannya." Yang saya khawatirkan sebenarnya bukan ditangkap polisi, saya hanya mendengarkan kata orang tua saya, seandainya tidak, mungkin kepala siswa tadi sudah saya benturkan ke meja atau ke tembok. Saya belumlah pantas menjadi guru, karena emosi saya masih bisa meledak sewaktu-waktu, saya bukanlah guru penyabar, saya guru yang sangat cerewet jika siswanya menyontek, saya guru yang sangat menjengkelkan karena selalu datang tepat waktu, dan saya guru yang aneh karena mengajari siswa untuk belajar jujur daripada mengejar nilai yang bagus. Olehnya itu, saya berhenti mengajar karena saya belum pantas menjadi guru.

Negeri ini tidak kekurangan orang pintar kok, hanya orang jujur saja yang kurang.

=====

Tulisan ini diikutkan dalam tantangan SIGi Makassar #SIGiMenulisRamadhan

Baca tulisan teman yang lain disini:

1 komentar: